Masalah sosial seperti perkelahian antar pelajar atau
sering disebut dengan tawuran sepertinya sudah sering kita dengar dan bahkan
mungkin sudah jadi budaya bagi pelajar
di Indoneia. Tawuran biasanya di sebabkan oleh hal-hal sepele seperti saling
mengejek , pemalakan dan membela teman yang punya masalah dengan sekolah lain.
Dan masalah tawuran biasanya hanya dilakukan sebagai kegiatan iseng belaka dan sebagai ajang balas
dendam. jika tawuran ini terus di biarkan dan tidak diatasi dengan baik, maka
akan menimbulkan banyak kerugian. Dalam hal ini sekolah berperan penting untuk mengatasi permasalahan tawuran antar
pelajar, karena jika sekolah salah dalam mendidik siswa maka siswa akan berbuat negatif dan mungkin siswanya tidak dapat menilai mana
yang baik dan mana yang buruk untuk dirinya.
Pihak sekolah seharusnya dapat memberikan contoh yang
baik. Sekolah harus dapat bertindak tegas terhadap murid-muridnya yang melanggar pelaturan dan diberi sanksi
yang cocok dan memenuhi kebutuhannya yaitu dalam segi pengetahuan, keterampilan maupun cara berikap sehingga dapat terhindar dari permasalahan sosial seperti tauran tersebut. Terjadinya tauran
antar pelajar tersebut mungkin terjadi akibat sekolah yang belum mampu
membekali siswanya dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Untuk itu sekolah seharusnya
lebih menggalakan upaya-upaya dan membekali pelajarnya dengan pengetahuan, keterampilan maupun cara berikap yang cukup untuk mencapai
tujuan pendidikan,sehingga dapat terhindar dari masalah seperti tauran antar pelajar. Ada tiga ranah yang
harus dimilki siswa untuk tercapai tujuan pendidikan, yaitu ranah kognitif,
ranah afektif dan ranah psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali
menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara bertingkat,
mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling
kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga
tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah
kognitif, untuk mencapai “pemahaman” yang berada di tingkatan kedua juga
diperlukan “pengetahuan” yang ada pada tingkatan pertama.
A.
Ranah
Kognitif
Siswa
harus memiliki Ranah Kognitif , yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan
aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
Dengan siswa memilki pengetahuan yang luas maka dirinya akan lebih hati-hati
dalam bertindak, setidaknya siswa terebut akan akan berpikir terlebih dahulu sebelum
bertindak. Contohnya ketika siswa tersebut di ajak tauran oleh temannya maka
dia akan berpikir terlebih dahulu dan sudah
memilki pengetahuan bahwa twauran itu tidak baik, dapat merugikan orang lain
dan dirinya endiri. Dan diapun tidak mungkin mengikuti teman-temannya. Ranah ini terdiri dari dua bagian: Bagian
pertama berupa Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan
Keterampilan Intelektual (kategori 2-6).
1.
Pengetahuan
Berisikan kemampuan untuk mengenali
dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan,
metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan tawuran
, orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari tawuran,
kerugian tauran, akibat dari tauran
2.
Aplikasi
Di tingkat ini, seseorang memiliki
kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, di dalam
kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi
informasi tentang penyebab terjadinya tawuran , seseorang yg berada di tingkat
aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab terjadinya tauran.
3.
Analisis
Di tingkat analisis, seseorang akan mampu
menganalisis informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan
informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau
hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat
dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan
mampu memilah-milah penyebab meningkatnya tawuran pelajar,
membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan
setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.
4.
Sintesis
Satu tingkat di atas analisis,
seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari
sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau
informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai
contoh, di tingkat ini seorang pelajar akan mampu memberikan solusi untuk
menurunkan tingkat terjadinya tauran di simpulkan berdasarkan pengamatannya
terhadap semua penyebab terjadinya tawuran.
5.
Evaluasi
Dikenali dari kemampuan untuk
memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dan sebagainya dengan
menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai
efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang pelajar harus
mampu menilai alternatif solusi yg sesuai untuk dijalankan dalam memecahkan
maalah tautran,efektivitas, nilai manfaat.
6.
↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya
B.
Ranah
Afektif
Siswa
harus memilki Ranah Afektif, berisi
perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat,
sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Dengan ia memilki kemapuan dalam
mengontrol emosinya maka dia akan mampu mengendalikan emosinya agar tidak mudah
terpengaruh terhadap hal-hal yang kurang baik. Contohnya ketika siswa terebut
mendapat pengaduan dari temannya maka dirinya akan sulit terpancing emosinya
untuk ikut membela temannya melakukan tauran, siswa terebut akan mampu mengontrol
emosinya sehingga tidak ikut-ikutan dengan temannya untuk melakukan tauran.
Ranah ini terbagi menjadi beberapa kategori antara lain :
1. Penerimaan
Kesediaan
untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan
perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.
2. Tanggapan
Memberikan reaksi terhadap fenomena
yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam
memberikan tanggapan.
3. Penghargaan
Berkaitan dengan harga atau nilai
yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian
berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan
ke dalam tingkah laku.
4. Pengorganisasian
Memadukan
nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk
suatu sistem nilai yang konsisten. Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai .
Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi
karakteristik gaya-hidupnya.
5. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya
C. Ranah Psikomotor
Siswa
harus dapat memiliki Ranah Psikomotor,berisi
perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan
tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin. Denagn ia memilki ranah pikommotor ini ia akan lebih memilih
kegiatan yang euai dengan keahliannya dibandingkan dengan tauran. Biaanya orang
yang memilkibanyak kemampuan lebih edikit memilki aktu luang dibanding orang
yang edikit kemampuan. Karena banyak
kemampuannya maka lebih banyak kegiatan yang dapat dirinya lakukan. Ranah
ini terbagi menjadi beberapa katergori antara lain :
1.
Persepsi
Penggunaan
alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.
2.
Kesiapan
Kesiapan fisik, mental, dan
emosional untuk melakukan gerakan.
3.
Guided Response (Respon Terpimpin)
Tahap
awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi
dan gerakan coba-coba.
4.
Mekanisme
Membiasakan
gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan
cakap.
5.
Respon Tampak yang Kompleks
Gerakan
motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang
kompleks.
6.
Penyesuaian (Adaptation)
Keterampilan
yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi
7.
Penciptaan (Origination)
Membuat
pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu.
8.
↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya






0 komentar:
Posting Komentar